• Kesejahteraan dan keamanan Anda adalah prioritas kami. Temukan kiat untuk tetap sehat dan dapatkan pembaruan terkini tentang nasihat perjalanan.

Bicara sekarang

Bicara sekarang


Maafkan saya. Saya tidak mengerti.

Maafkan saya. Saya tidak mengerti.

Merekam semangat kerajinan tangan bersama Rain Haze

Localiiz
  • Written by Localiiz
Rain Haze sedang memegang skala di Lee Woo Steelyard

Kredit foto: Leo Cheng

Seni kerajinan tangan merupakan sesuatu yang digandrungi oleh ilustrator dan penulis Rain Haze sejak usia muda. Dia membuat kerajinan tangan seperti seni kain, seni resin, dan boneka hingga secara tak sengaja menemukan khazanah kerajinan tangan tradisional yang ada di kota itu. Dia mengunjungi para master tua yang membuat tabung neon, mengukir genting mahjong dengan tangan, dan membuat sepatu bordir yang sangat elok. Sering kali, para perajin West Kowloon ini berambut perak dan bertekad baja, benteng roh kota yang tak kasat mata tetapi terasa nyata.

Rain Haze di Shanghai Street di Yau Ma Tei

Kredit foto: Leo Cheng

“Ada banyak sekali toko tua di Jordan dan Yau Ma Tei. Generasi tua sepertinya sangat menggandrungi berbagai kerajinan dan pasti memiliki toko serta studio di area ini. Itulah sebabnya ada begitu banyak perajin tua di distrik ini,” terang Rain. “Saya benar-benar berharap agar tradisi ini bisa dilestarikan, atau ada orang yang dapat membantu mempromosikan atau mengembangkan budaya ini,” imbuhnya. Rain ikut ambil bagian dengan menuturkan cerita-cerita tentang para perajin di area ini karena rasa hormat dan kekaguman atas tekad baja mereka. “Para perajin telah membaktikan seluruh hidup mereka pada satu kerajinan tangan dan menguasai betul satu kerajinan itu. Mereka gigih melakukan yang terbaik dan terus mengasah keterampilan — inilah semangat kerajinan tangan,” terangnya.

Rain sedang mengamati nampan baja di tempat pembuatan baja tanpa karat di Diligence

Kredit foto: Leo Cheng

Para perajin, maestro di dalam pekerjaan yang ditekuninya, menjadikan prosesnya terlihat sederhana Akan tetapi, setiap potongan dan pukulan martil sebenarnya menyamarkan kerja keras dan waktu yang dihabiskan untuk menyempurnakan hasil karya. Rain telah ikut serta di banyak lokakarya yang diadakan oleh para master tua ini dan telah merasakan pahit getir warisan mereka di tapak tangannya. “Mereka membuatnya seolah-olah tampak mudah, tetapi sebenarnya tidak. Saya sudah kelelahan hanya beberapa menit mencoba membuat pelat tembaga, ternyata setiap lempeng memakan waktu berjam-jam memukuli dan memanaskannya. Setiap kali saya melewati toko, dan mendengar dentingan baja ketemu baja, saya teringat dengan kekuatan dan keuletan mereka,” ujarnya.

Rain menyarankan untuk mampir ke beberapa toko tua di area tersebut pada saat berkunjung di sana, seperti Lee Wo Steelyard dekat Pasar Buah Yau Ma Tei, yang menjadi toko terakhir yang masih tersisa dari jenisnya. Dia juga menganjurkan agar mampir ke Bowring Commercial Centre di Jordan, lokasi keberadaan dua toko kerajinan tangan tradisional — Sindart, yang menjual sepatu dan aksesori hasil sulaman tangan, dan Shanghai Baoxing Qipao, tempat kerja seorang penjahit qipao terampil yang sudah menggeluti dunia jahit menjahit di bangku kerjanya sejak pertengahan abad ke-20.

Rain sedang memegang sepasang sandal bordir dari Sindart

Kredit foto: Leo Cheng

Sentuhan manusia yang menjadi andalan kebanyakan seni tradisional inilah yang dianggap hilang oleh Rain dari masyarakat modern saat ini, yang didominasi oleh otomatisasi. Namun, atas nama kemajuan, banyak cerita-cerita ini sudah mendekati ambang kepunahannya. Seperti kesaksian Rain, “Kebanyakan mereka sudah rela menerima garis takdirnya karena sudah memasuki usia pensiun, tetapi mencoba bertahan.. Mereka melanjutkan bisnisnya bukan demi mencari uang. Saat saya pergi belajar membuat perabot tembaga, banyak penduduk sekitar biasa singgah dan menyapa Para master sudah membangun hubungan yang erat dengan semua warga di lingkungan ini. Namun pada akhirnya, hal-hal tertentu memang harus punah ditelan masa.”

Rain sedang memegang bukunya di depan mural Mido Café

Kredit foto: Leo Cheng

Sewaktu berjalan melewati toko-toko tua di Jordan dan Yau Ma Tei, muncul rasa damai. Waktu melambat saat detak jarum jam mengikuti geseran timbangan dacin, tekanan penentu kampuh, dan pukulan martil yang ajek ke tembaga. Untungnya, cerita para perajin tua ini tampaknya belum tamat, justru mendekati awal babak baru. “Banyak perusahaan sosial dan seniman mati-matian mempromosikan kerajinan tangan tradisional dengan berbagai cara. Sebagai contoh, sebuah perusahaan telah membuka toko online untuk menjual produk buatan perajin tua. Beberapa seniman biasa berkolaborasi dan mengadakan pameran bersama para master tua. Perusahaan sosial seperti Eldage dan Life Workshop biasa mengadakan lokakarya untuk mempromosikan kerajinan tradisional,” ujar Rain penuh antusias. Muncul apresiasi yang kian menguat terhadap produk-produk kerajinan tangan dan sinergi yang sadar antara seniman muda dan master tua. Dengan bahu membahu, babak baru akan diukir dalam semangat seni dan keindahan seni.

Informasi di artikel ini dapat berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Harap hubungi penyedia produk atau jasa terkait untuk keterangan lebih lanjut.

Dewan Pariwisata Hong Kong tidak bertanggung jawab terhadap kualitas maupun kesesuaian untuk kepentingan produk dan jasa pihak ketiga; dan tidak mewakili atau memberikan jaminan keakuratan, kelaikan, atau keandalan informasi apa pun yang tercantum di sini.

Anda mungkin juga tertarik dalam...

{{post.type}}

{{post.title}}

{{post.date}}

We use cookies to ensure that we give you the best experience on our website, to understand your interests and provide personalized content to you as further set out in our Cookie Policy here. If you accept the use of cookies on our website, please indicate your acceptance by clicking the "I accept" button. You may manage your cookies settings at any time.